AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP PRIBADI, MASYARAKAT DAN NEGARA


KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ ۝٩ (الإسراء) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullâh, 
Di antara sekian banyak keistimewaan Ramadhan adalah karena Ramadhan adalah Bulan al-Quran. Pada bulan mulia inilah al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan yang batil, sebagaimana firman-Nya; 
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
”Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS al-Baqarah [2]: 185).

Bahkan, al-Quran diturunkan pada malam paling istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS al-Qadar [97]: 1-3). Al-Quran adalah cahaya penerang yang membimbing manusia menuju kebenaran, kebahagiaan, dan keselamatan di dunia serta akhirat. Hukum-hukumnya berlaku sepanjang masa, tak lekang oleh waktu dan perubahan zaman. Allah Subhânahu Wa Taâlâ menegaskan dalam Surah al-Baqarah [2] ayat 2 bahwa al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan dalam Surah al-Isrâ [17] ayat 9 bahwa ia memberikan kabar gembira bagi kaum Mukmin yang beramal shalih. 

Dengan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan al-Quran, umat Muslim dapat menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah, yaitu di jalan yang lurus dan selamat. Sebaliknya, jika mereka berpaling dari al-Quran, mereka akan menghadapi kehidupan yang sempit di dunia dan azab yang pedih di akhirat, sebagaimana diperingatkan dalam Surah Thâhâ [20] ayat 124. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya menjadikan al-Quran sebagai pedoman utama dalam kehidupan agar selalu berada di jalan kebenaran dan memperoleh ridha-Nya.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullâh,
Kehidupan yang sempit saat ini adalah akibat dari berpalingnya manusia dari al-Quran. Padahal, negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun tidak membawa berkah karena dikelola tanpa mengikuti petunjuk al-Quran. Allah Subhânahu Wa Taâlâ telah melarang penumpukan kekayaan pada segelintir orang dalam firman-Nya 
...كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

”…Agar harta itu tidak hanya beredar (menumpuk) pada segelintir orang-orang kaya saja di antara kalian.” (QS al-Hasyr [59]: 7). Tetapi faktanya, kekayaan negeri ini hanya dinikmati oleh oligarki. Islam menegaskan bahwa sumber daya alam adalah milik umum yang wajib dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan hanya segelintir pihak. 

Hawa nafsu membawa manusia pada kesesatan dan kerusakan, sedangkan al-Quran adalah cahaya penerang yang memberikan keberkahan. Firman-Nya :
...قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٌ وَكِتَٰبٌ مُّبِينٌ
”…Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (QS al-Mâidah [5]: 15). 

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;
اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ
”Bacalah al-Quran karena ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi sahabatnya pada Hari Kiamat.” (HR Muslim No.804). Sahabat al-Quran adalah mereka yang membaca, memahami, dan mengamalkan isi al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. (Daliil al-Fâlihiin, 6/310). 

Al-Quran tidak hanya menjadi pedoman bagi individu dan masyarakat, tetapi juga bagi negara. Keagungan al-Quran digambarkan dalam firman Allah Subhânahu Wa Taâlâ bahwa jika diturunkan ke gunung, maka gunung itu akan tunduk karena takut kepada Allah. Firman-Nya; 
لَوْأَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
”Andai al-Quran ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti akan menyaksikan gunung itu tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir.” (QS al-Hasyr [59]: 21). 

Abu Hayan al-Andalusi menafsirkan ayat ini sebagai celaan bagi manusia yang keras hatinya dan tidak tunduk pada al-Quran, padahal gunung pun akan tunduk terhadapnya. (Bahr al-Muhîth, 9/251). 

Al-Quran tidak cukup hanya dibaca dan dihafal, tetapi harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan individu, sosial, dan kenegaraan. Perintah seperti puasa Ramadhan (QS al-Baqarah [2]: 183), hukum qishaash (QS al-Baqarah [2]: 178), dan jihad (QS al-Baqarah [2]: 216) menggunakan kata "kutiba" yang berarti diwajibkan. Namun, saat ini, hanya kewajiban individu yang diamalkan, sedangkan hukum sosial dan kenegaraan banyak diabaikan, termasuk oleh para pemimpin Muslim. 

Karena itu, individu, masyarakat, dan negara wajib meneladani Rasulullah Shallallâhu alaihi wasallam yang menerapkan hukum-hukum Islam secara kaaffah (QS al-Ahzâb [33]: 21). Allah Subhânahu Wa Taâlâ juga telah memerintahkan kaum Muslim untuk masuk Islam secara keseluruhan (QS al-Baqarah [2]: 208). Dengan demikian, kebahagiaan dan keberkahan hidup hanya dapat dicapai dengan kembali kepada al-Quran dan mengamalkan seluruh hukum-hukumnya dalam semua aspek kehidupan. 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullâh
Sayangnya, meskipun negeri ini memiliki ribuan pesantren, ulama, dan penghafal Al-Quran, faktanya hukum Al-Quran tidak dijadikan sebagai dasar perundang-undangan negara. Sebaliknya, ideologi kapitalisme sekuler dari Barat justru menjadi sumber hukum, sementara syariah Islam sering ditolak dan dianggap radikal. Padahal, berhukum dengan Al-Quran merupakan bukti keimanan kepada Allah Subhânahu Wa Taâlâ (QS An-Nisâ [4]: 65), dan Allah telah menegaskan bahwa tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum-Nya (QS Al-Mâidah [5]: 50). Berhukum selain dengan Al-Quran berarti mengikuti hukum jahiliyah yang jelas bertentangan dengan Islam. 

Apalagi sudah jelas, akibat mengabaikan al-Quran dan hukum-hukumnya, negeri ini menjadi gelap. Akibat mengabaikan hukum-hukum Allah, negeri ini dipenuhi kemungkaran dan kebatilan. Korupsi triliunan rupiah, judi online, perampasan tanah rakyat, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga perampokan sumber daya alam oleh kapitalis merajalela. Semua ini adalah akibat berpaling dari petunjuk Al-Quran, sebagaimana digambarkan dalam QS Ar-Rūm [30]: 41 dan QS Thâhâ [20]: 124. Kehancuran moral dan sosial ini hanya dapat dihentikan dengan kembali pada hukum-hukum Islam yang telah Allah tetapkan. 

Oleh karena itu, penerapan hukum Al-Quran secara kaaffah adalah keharusan, bukan sekadar pilihan. Negara wajib menjadikannya sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya dalam ranah individu dan masyarakat. Bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengamalkan dan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, sebagai solusi atas berbagai permasalahan bangsa ini. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ





KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar