Oleh : Heni Ummu Faiz (Ibu Pemerhati Umat)
Memasuki bulan Ramadan menjadi bulan penuh kesedihan bagi beberapa wilayah Jabodetabek karena diterjang banjir.
Menurut Peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN, Yus Budiono menyebut ada empat faktor banjir di wilayah Jabodetabek, yakni penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem (9/3/2025) pengelolaan SDA dan perubahan tata guna lahan di wilayah perkotaan.(TRIBUNJABAR.ID, 9/3/2025).
Banjir bukan hanya melanda wilayah Jabodetabek tetapi wilayah Sukabumi pun tak luput dari banjir. Berdasarkan data terbaru dari detikJabar lebih dari 4.500 jiwa terdampak. Bencana tersebut akibat hujan deras yang tanpa henti sejak kamis(6/3).
Sebanyak1.424 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal atau harus mengungsi. Dari jumlah tersebut, 83 KK atau 246 jiwa mengungsi, sementara 142 KK atau 474 jiwa lainnya dalam kondisi terancam jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Menurut Daeng Sutisna selaku Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi bahwa hujan deras memicu peningkatan volume air dan longsor di berbagai titik. Ada 19 lokasi terdampak di 10 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Simpenan, Palabuhanratu, dan Lengkong.(detikJabar.com,10/3/2025).
Rentetan peristiwa banjir dan longsor yang menimpa wilayah di Jabodetabek, Sukabumi dan wilayah Indonesia lainnya tentu membuat kita sedih dan prihatin. Terlebih akhir-akhir ini kondisi cuaca ekstrem yang sering membuat kita waspada akan terjadi musibah lainnya seperti puting beliung, gempa bumi dan tanah bergerak. Kewaspadaan sangat dibutuhkan oleh semua rakyat.
Di tengah bencana alam yang menimpa wilayah Jabodetabek terutama wilayah Sukabumi nyatanya belum mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Banyak warga yang mengeluhkan tentang kondisi mereka yang saat ini mengalami kekurangan bahan makanan, obat-obatan dan kebutuhan lainnya. Bahkan di daerah simpenan Sukabumi justru kini terisolir. Sejatinya kita pasti akan bertanya kenapa bencana banjir dan longsor terus berulang? Tak adah solusi yang mampu menuntaskan permasalahan banjir dan longsor.
Penyebab Banjir
Bencana alam banjir dan longsor dianggap karena kondisi cuaca ekstrem, alam dan pola hidup masyarakat. Padahal sebenarnya bencana alam ini terus berulang karena buah dari kebijakan pembangunan yang bertumpu pada kapitalistik yakni mencari keuntungan semata. Banyaknya perizinan alih fungsi lahan dan pengabaian terhadap lingkungan hidup oleh penguasa baik tingkat bawah hingga pejabat pemerintah.Masifnya bangunan pabrik, tempat wisata dan perumahan yang dibangun tanpa memedulikan dampak buruk terhadap lingkungan. Tanah resapan yang kian hilang, belum ditambah terjadinya pendangkalan sungai yang kian parah.
Inilah yang terus terjadi di daerah Jabodetabek dan Sukabumi. Banyak warga yang mengungsi akibat dari banjir dan longsor. Belum lagi kerugian materi yang sangat banyak dan tentu melumpuhkan perekonomian warga.
Sungguh sangat memprihatinkan di tengah suasana bulan Ramadan yang seharusnya fokus beribadah justru mendapatkan kesedihan akibat keserakahan para kapitalis dan pejabat yang tak sayang rakyat. Mereka justru saling lempar tanggung jawab akibat bencana ini. Padahal seharusnya saling berbenah dan mencari solusi terbaik agar rakyat tidak terus menerus menjadi korban keserakahan. Namun rasanya sulit menyelesaikan masalah di negeri +62 dengan aturan kapitalisme. Karena watak dari sistem ini sangat tertumpu pada keuntungan materi semata. Keserakahan sudah menjadi karakter sekuler kapitalisme. Tak heran rakyat hanya menjadi tumbal kejumawaan para kapitalis dan pejabat nihil empati.
Islam Solusinya
Petaka yang terjadi saat ini akibat tidak diterapkan hukum Islam secara kafah. Jauh -jauh hari Allah memberikan peringatan di dalam Al quran saat umat manusia jauh dari syariat-Nya. Disebutkan dalam Al quran yakni; "Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik.” (QS Al-A’raf [7]: 56).
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum [30]: 41).
Oleh karena itu, sejatinya kita sadar dan mengembalikan permasalahan ini kepada hukum Allah bukan sekuler kapitalisme. Di sistem Islam permasalahan bencana seperti banjir, tanah longsor akan diselesaikan secara sistematis bukan parsial seperti sekarang. Fungsi negara akan membuat kebijakan yang tidak menyengsarakan rakyat dan ramah lingkungan.
Negara (Khilafah) saat ada bencana akan menyiapkan mitigasi yang rapi dan terstruktur. Baik sebelum terjadi bencana maupun sesudahnya. Wilayah yang diprediksi rawan bencana akan dipantau terus dan dicari solusi tuntas. Jika wilayah tersebut terkategori merupakan tanah bergerak maka sebaiknya tidak ditempati untuk pemukiman penduduk. Khilafah juga menyiapkan tanah resapan air dengan menanam pohon yang dianggap mudah menyerap air. Sedangkan untuk sungai akan dilakukan pengerukan saat terjadi pendangkalan. Melarang penduduk untuk tinggal di daerah dekat sungai karena akan membahayakan. Oleh karena itu, negara wajib bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya.
Selain itu, negara mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Jika ada yang melanggar akan diberikan sanksi tegas. Memantau dan memberi peringatan dini pada wilayah yang sering banjir. Memasang pompa dan penghalang ombak untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
Tidak sampai di situ, Khilafah memberikan sanksi tegas dan efek jera kepada siapa pun yang membuat usaha atau industri yang mencemari dan membuat kerusakan lingkungan. Bukan hanya sampai disini di sistem Islam mengenal hima yang merupakan wilayah yang diperuntukkan untuk unta-unta kaum Muslim.
Ibnu Umar ra. berkata, “Rasulullah saw. telah memproteksi (daerah) An-Naqi’, yaitu suatu tempat yang sudah dikenal di Madinah, khusus untuk unta-unta kaum muslim.” (Abu ‘Ubaid, Al-Amwal).
Ini menjadi bukti konkret bahwa Islam sangat peduli terhadap lingkungan. Hima ini pula senantiasa tetap terjaga di sepanjang sejarah Islam.
Di masa kekhalifahan Abbasiyah dan Turki Utsmaniyah menjadi bukti bahwa negara mampu mengatasi bencana banjir salah satunya. Oleh karenanya tidak ada lagi penduduk yang nakal, para pengusaha yang seenaknya hatinya membuat tempat usaha yang merugikan lingkungan. Tidak ada lagi pejabat tidak amanah yang menjual izin usaha demi kepentingan pribadinya. Semata-mata semua karena rasa takut kepada Allah Swt.
Alhasil, hujan yang turun merupakan rahmat dan tidak membawa bencana alam bagi manusia. Semua ini karena sistem Khilafah yang menyelesaikan masalah banjir secara tuntas. Tidak ada lagi petaka karena bencana karena pejabat dan rakyatnya dilandasi iman dan takwa.
Wallahualam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.
0 Komentar