Oleh : Lia Ummu Thoriq (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Banjir lumpuhkan wilayah kota Bekasi (4/3). Ada 8 wilayah kecamatan di kota Bekasi yang terdampak. Terparah di Perumahan Pondok Gede Permai dengan ketinggian air hingga 8 meter. Sedang di Kabupaten Bekasi, ada 6 wilayah terdampak, yaitu kecamatan Cibarusah, Serang Baru, Setu, Cikarang Utara, Cibitung dan Tambun Utara. Ketinggian air mencapai 150 sentimeter bahkan lebih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan bahwa penyebab terjadinya banjir adalah melimpahnya air dari tanggul yang telah dibangun Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BWSCC). Hal ini dikarenakan hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Bekasi. Selain itu, luapan air dari Kali Cikeas dan Kali Bekasi juga memperburuk kondisi. (CNNIndonesia Selasa, 04/03/2025)
Tidak hanya Bekasi yang di terjang banjir, sebagian Jakarta dan Bogor juga mengalami dampak banjir. Banjir telah melumpuhkan aktivitas warga. Harus ada upaya yang serius agar banjir tak terus berulang. Apa yang menjadi penyebab banjir?? Apakah akibat buang sampah sembarang atau karena curah hujan yang tinggi?? Kita harus menganalisis secara mendalam agar mendapatkan solusi pundamental. Jika kita telaah lebih dalam banjir yang melanda Jabodetabek, khususnya Bekasi tersebut antara lain:
1. Alih fungsi lahan. Adapun menurut data Greenpeace, deforestasi kawasan hijau DAS Kali Bekasi pada 1990 hingga 2022 mencapai 23.600 hektare. Saat ini tersisa 1.700 hektare. Jadi, das itu daerah aliran/tangkapan. Bukan hanya kanan kiri sungai. Kalau DAS nya buruk limpasan airnya langsung ke sungai. Idealnya secara aturan 30% wilayah DAS harus tutupan hutan. (Bisnis.com dengan judul "Alih Fungsi Lahan Picu Banjir Bandang Lumpuhkan Jabodetabek?")
Inilah penyebab utama banjir yang menerjang kota Bekasi adalah Alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan ini yang membuat tidak ada resapan air. Lahan yang dulunya menyerap air hujan sekarang baralih menjadi rumah serta pabrik-pabrik.
Tak hanya di Bekasi, alih fungsi lahan juga terjadi di Bogor. Bogor daerah yang sering mengirim banjir. Kerusakan ekologis di puncak Bogor mencapai 65 %. Walhi Jabar sebut alih fungsi lahan banyak terjadi di sana. Dilansir dari jabarekspres.com salah satu penyebab utama banjir adalah deforestasi dan alih fungsi lahan di kawasan Puncak, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Hutan dan lahan resapan air yang seharusnya menjadi benteng alami terhadap banjir telah berubah menjadi vila, hotel, perumahan dan pengembangan wisata yang berkedok ramah lingkungan. Perubahan fungsi ini, terutama di kawasan perkebunan yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, menyebabkan kerusakan serius.
Tak hanya di Bekasi dan Bogor alih fungsi lahan juga terjadi di ibukota negara kita, jakarta. Dilansir dari kompas.Id 22.000 hektar lebih ruang terbuka Hijau hilang. 90% Jakarta tertutup beton.
2) tata kota yang buruk.
Tata kota adalah ilmu yang mempelajari tentang perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan kota. Tujuan dari tata kota adalah untuk menciptakan kota yang 1. Nyaman dan aman bagi penduduknya. 2. Efisien dan efektif dalam penggunaan sumber daya 3. Berkelanjutan dan ramah lingkungan. 4. Meningkatkan kualitas hidup penduduknya
Tata kota yang buruk di Bekasi menjadi salah satu penyebab banjir. Pembangunan tanpa rencana menjadi bencana besar bagi warga Bekasi. Pembangunan besar-besaran membuat tata kota di Bekasi semakin semrawut. Mall besar banyak berdiri di Bekasi. Banyak lahan serapan air yang disulap menjadi perumahan dan pabrik. Sehingga air tidak bisa terserap dengan baik. Daerah kabupaten Bekasi menjadi pusat pabrik di negeri ini. Banyak pabrik yang bermunculan disana.
3) urban planning yang buruk. Arus urbanisasi yang membuat banyak orang yang melirik Bekasi sebagai tempat tinggal. Mahalnya harga rumah di ibu kota banyak yang membeli rumah di Bekasi, dengan harga yang masih cukup miring. Terutama di daerah kabupaten Bekasi. Pembangunan yang tidak merata dalam sistem kapitalisme mengakibatkan adanya arus urbanisasi yang tinggi sehingga mengakibatkan adanya alih fungsi lahan hijau menjadi lahan beton (perumahan, jalan, gedung dll). Hal ini mengakibatkan minimnya daerah resapan air.
Pengamat Tata Kota Sebut Bekasi Bakal Terancam Banjir sampai Kapan Pun Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menjelaskan bencana banjir di Bekasi akan menjadi ancaman sampai kapan pun. Yayat menjelaskan Bekasi dulunya adalah hamparan sawah luas dengan sistem irigasi yang sesuai untuk lahan pertanian.
Namun, pesatnya urbanisasi sejak tahun 1970-an, ditambah pembangunan kawasan perumahan besar-besaran di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cileungsi dan Cikeas, mengubah wajah Bekasi secara drastis. Aliran air yang seharusnya mengalir lancar kini terhambat oleh permukiman yang padat. Tanpa pembenahan tata ruang dan normalisasi sungai, banjir akan terus menjadi mimpi buruk warga Bekasi. (Kompas.com)
4) Sistem Drainase yang buruk. Ditambah buruknya pembangunan sistem drainase yang terintegrasi. Drainase adalah sistem yang dirancang untuk mengalirkan air dari suatu daerah atau wilayah, biasanya untuk mencegah banjir, mengurangi risiko erosi, dan meningkatkan kualitas lingkungan. Drainase membantu mengalirkan air hujan atau air tanah sehingga tidak menimbulkan banjir. Salah satu komponen drainase adalah got. Banyak got-got di Bekasi yang tidak dapat berfungsi dengan baik. Tersumbat sampah, dan yang lebih miris adalah banyak got yang tidak berfungsi karena pembangunan.
5) Kebijakan politik pemerintah. Dalam sistem politik Islam, penguasa adalah pengurus urusan umat. Mereka wajib mengurusnya dengan hukum Islam. Sayangnya penguasa hari ini melepaskan tanggungjawab itu sehingga ada kecenderungan eksploitasi dalam tata kelola kota.
Penguasa membiarkan para pemilik modal dengan berbagai regulasi yang ada untuk mengeksploitasi wilayah hulu (membangun perumahan/vila/tempat wisata). Begitu pun di wilayah hilir. Banyak kawasan resapan yang hilang akibat pembangunan yang beresiko. Penguasa juga tidak memperhatikan dengan baik bagaimana kondisi sungai dan juga tidak membangun sistem drainase yang aman.
Inilah penyebab utama dari permasalahan banjir yang menyerang Jabodetabek, terutama Bekasi. Jadi kalau dulu kita diajarkan oleh guru-guru kita kalau banjir penyebab utamanya karena buang sampah sembarang tak relevan dengan kondisi hari ini. Penyebab utama dari banjir adalah keputusan politik dari pemerintah. Pemerintah yang membiarkan para pengembang liar untuk mendirikan bangunan dengan liar tanpa melihat dampak yang terjadi di kemudian hari.
Sistem Islam Solusi dari Permasalahan Banjir
Islam adalah agama yang sempurna, mengatur masalah masuk WC sampai masalah negara. Tak terkecuali masalah lingkungan tata kelola kota. Penguasa wajib merancang tata kelola kota yang berkelanjutan. Dalam kitab Nidzamul Iqtishadi fil Islam, Syaikh Taqiyuddin aN Nabhani menjelaskan pengelolaan sumber daya alam dan infrastruktur harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Tanah, air, dan sumber daya alam adalah amanah yang tidak boleh dikelola secara serakah oleh swasta sehingga merusak keseimbangan ekosistem.
Makanya akan ada regulasi yang ketat untuk menjaga ekosistem baik di wilayah hulu maupun hilir. Negara juga akan memastikan pembangunan yang merata sehingga akan meminimalisir arus urbanisasi. Begitu pun dengan pengelolaan sungai, sistem drainase yang terintegrasi dan kebutuhan tanggul/waduk. Negara wajib memperhatikan dan membangunnya dengan kualifikasi terbaik dengan dukungan sistem keuangan dari Baitul mall.
Maka, bencana banjir akan bisa diatasi jika pembangunan selaras dengan prinsip kepemimpinan Islam yang bertanggung jawab. Karena negara bertanggung jawab dalam mengatur pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat, bukan hanya keuntungan materi, serta pengelolaan sumber daya yang adil dan berkelanjutan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.
0 Komentar