Bulan Ramadhan, Mari Tingkatkan Keimanan


Oleh : Reshi Umi Hani

Bulan Ramadhan kerap kali dijadikan ajang banyak kegiatan untuk mengisi waktu luang, tak terkecuali kegiatan-kegiatan yang tanpa sadar merupakan kegiatan yang negatif. Maraknya balap lari liar yang terjadi selama Ramadan, terjadi di beberapa daerah, termasuk di daerah Kutai Kartanegara (Kukar). Hal tersebut juga menjadi perhatian Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara (Kukar).

Demi mengurangi kegiatan balap liar tersebut, Dispora Kukar menggelar Run Street Ramadan Kukar 2025. Kegiatan ini sudah berjalan sejak tahun lalu. Menurut Kadispora Kukar Ali Husni, kegiatan ini lebih positif ketimbang balap liar yang bisa mencelakakan diri sendiri dan juga pengguna jalan lainnya.

Balap liar di bulan Ramadhan tentu mengganggu pengguna jalan lainnya. Hal tersebut tentu saja selain mengganggu aktivitas masyarakat lainnya, juga malah membuat keberkahan pada aktivitas-aktivitas kita di bulan ramadhan semakin berkurang.

Pemerintah seharusnya menindak tegas dan melakukan patroli terhadap kegiatan-kegiatan serupa, sehingga umat islam dapat memaksimalkan kebaikan-kebaikan dibulan ramadhan tanpa ada gangguan-gangguan dari berbagai oknum.

Apa yang telah dilakukan oleh pihak pemerintah dalam mengatasi kegiatan-kegiatan negatif, sudah merupakan langkkah yang baik namun, apakah sekedar mengalihkan dari hal negatif menjadi positif bisa diterima namun mengapa dengan kekuasaan lebih tidak untuk meningkatkan ketakwaan?

Program yang kontra produktif dengan tujuan Ramadhan seharusnya dapat di minimalisir oleh pemerintah, sehingga bisa mewujudkan keberkahan bulan ramadhan. Seharusnya Penguasa tidak hanya memfasilitasi masyarakat pada sesuatu yang mubah, seharusnya keberadaan penguasa dengan tangannya bisa untuk wasilah ibadah.

Meski merupakan kewajiban individual, puasa tetap memberikan pesan-pesan politik dan sosial. Secara individual, pelaksanaan puasa Ramadhan berdampak pada peningkatan kualitas ketaqwaan. Bahkan inti puasa Ramadhan adalah ketaqwaan. Sebab ujung dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah diraihnya status sebagai manusia yang bertaqwa.

Ketaqwaan adalah derajat paling mulia di sisi Allah SWT:
Ø¥ِÙ†َّ Ø£َÙƒۡرَÙ…َÙƒُÙ…ۡ عِندَ ٱللَّÙ‡ِ Ø£َتۡÙ‚َÙ‰ٰÙƒُÙ…ۡۚ ١٣
"Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS al-Hujurat : 13)

Ketaqwaan seorang individu adalah ketika ia mampu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai timbangan sikap dan perilakunya. Kehati-hatian dalam berperilaku, agar selalu dalam ketundukan kepada hukum Allah serta terhindar dari jerat kemaksiatan dan pelanggaran hukum syariah, itulah yang disebut sebagai taqwa.

Keberadaan penguasa dalam menghadirkan keimanan ditengah-tengah masyarakat sangatlah mungkin dilakukan oleh seorang penguasa. Maka perlu lah peran seorang pemimpin tidak hanya dalam menghadirkan kemudahan dalam melakukan hal-hal duniawi yang bermanfaat namun juga dalam hal ibadah dan peningkatan amal-amal shaleh lainnya.

Ramadhan sudah semestinya menjadi landasan spirit bagi kaum muslim untuk berubah, yakni menjadi muslim yang bertakwa.Bukan hanya ketakwaan individual, tetapi juga kolektif. Bukan sekedar ketakwaan yang bersifat lokal dan nasional, tetapi juga global.

Sangat layak jika kaum Muslimin menyambut datangnya bulan mulia itu dengan penuh suka-cita. Juga mengisinya dengan aktivitas yang mulia. Hal ini dilakukan mulai dari rakyat jelata, hingga para pemimpinnya.

Para pemimpin Muslim yang bertanggung jawab atas terjaganya ajaran agama, menyambut bulan mulia dengan berbagai macam aktivitas. Bagi mereka, Ramadhan adalah bulan yang harus diberi prioritas perhatian.

Mari kita menjadikan Ramadan kali ini untuk memulai perubahan menuju pribadi yang benar-benar bertakwa, yang siap menjalankan dan menegakkan syariat Allah Swt. secara kâfah. Tentu dalam institusi Khilafah. Sebabnya, hanya dengan Khilafah segenap ajaran dan hukum Islam dapat terlaksana sempurna.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar