Persoalan Sampah Butuh Kesadaran dan Tanggung Jawab Bersama


Oleh : Eulis Nurhayati

Sampah masih menjadi salah satu masalah besar yang belum bisa terselesaikan hingga saat ini. Dan bisa menjadi dampak yang buruk bagi kehidupan ketika pembuangan sampah secara sembarangan dilakukan. Salah satu dampak buruk yang sering terjadi karena adanya pembuangan sampah sembarangan dan menyebabkan penumpukan sampah yang menghambat aliran air adalah banjir. Seperti dilansir dari Sumedang.radarbandung online, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir turun langsung memantau pengerukan sedimentasi dan pembersihan Sungai Cimande di Kecamatan Cimanggung. Ia bahkan rela bolak-balik Sumedang – Cimanggung untuk memastikan pekerjaan tim gabungan berjalan optimal.

Dony mengungkapkan, beberapa hari lalu operasi pembersihan telah dilakukan oleh tim gabungan di sekitar Jembatan Cipangsor, aliran Sungai Cimande. Sampah dan lumpur yang menumpuk di area tersebut telah dibersihkan oleh petugas dari BPBD, Damkar, Satpol PP, TNI, Polri, dan unsur lainnya.

“Kita jangan saling menyalahkan, yang penting bersihkan semua material kayu, sampah plastik, dan berbagai jenis sampah lainnya. Alhamdulillah, upaya ini membuahkan hasil, dan kemarin saja sampah yang berhasil diangkat mencapai lebih dari empat truk,” ujar Dony kepada awak media, Jumat (21/3/2025).

Dony menjelaskan bahwa sedimentasi tinggi di Sungai Cimande menyebabkan sampah menumpuk di bawah Jembatan Cipangsor. Sumbatan ini menghambat aliran air dan berujung pada banjir di pemukiman warga akibat fenomena back water. “Sudah tiga hari pengerukan berlangsung. Awalnya fokus di luar jembatan, setelah area luar bersih, pengerukan dipusatkan di bawah jembatan,” katanya.

Persoalan sampah ini sebenarnya memerlukan kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap individu terhadap kebersihan lingkungan dalam membuang sampah secara benar. Dan hal ini merupakan suatu keharusan. Dalam pengelolaan sampah misalnya yaitu dengan menyortir sampah organik dan anorganik. Metode ini sangat diperlukan agar tidak menimbulkan senyawa-senyawa aktif yang dapat membahayakan kesehatan manusia, yang disebabkan tercampurnya semua jenis sampah. Dan ini perlu dilakukan di semua kalangan, baik anak-anak maupun orang tua agar terbentuk kesadaran dalam menjaga kebersihan.

Kita sudah melihat juga berbagai upaya telah dilakukan dalam menanggulangi sampah ini. Mulai dari gerakan peduli sampah oleh para aktivis lingkungan sampai ajakan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi nyatanya tidak sedikit pula di lingkungan masyarakat yang masih abai terhadap kebersihan, termasuk membuang sampah tidak pada tempatnya, sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan yang terus berulang. Maka sangat dibutuhkan kerja sama antara individu dan masyarakat untuk saling bergotong-royong dalam mewujudkan kenyamanan bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Agar tercipta lingkungan yang sehat dan bersih. Apalagi Islam sangat menganjurkan untuk menjaga kebersihan, baik dalam menjaga kebersihan diri juga lingkungan. Dan sesungguhnya seorang muslim dituntut menjaga kebersihan jalan dan tidak sembarangan membuang sampah, kecuali pada tempat yang disediakan. Syariat Islam mengajarkan kebersihan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan, Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu, bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi.” (HR At-Tirmidzi dan Abu Ya’la). Sabda Rasulullah saw. yang lain, “Kebersihan itu adalah setengah dari Iman.” (HR. Muslim).

Islam pun memiliki cara tersendiri dalam menangani permasalahan sampah juga dalam menjalani hidup sesuai kebutuhan bukan keinginan, yakni dengan mendorong masyarakat untuk bertanggung jawab atas setiap produk yang diproduksi maupun yang dikonsumsi. Islam juga memandang bahwa semua pihak baik individu, masyarakat, maupun negara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kebersihan lingkungan. Karena Islam menetapkan bahwa hubungan manusia dengan alam adalah hubungan yang saling melengkapi. Allah mempercayakan bahwa manusia adalah khalifah di bumi ini sehingga salah satu tugasnya adalah penjaga bumi. 

Islam melarang manusia melakukan kerusakan lingkungan, sebab lingkungan merupakan penyangga kehidupan manusia. Allah Ta'ala pun mengingatkan kita dalam QS Ar-Ruum: 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali pada jalan yang benar.”

Rasulullah saw. pun memerintahkan kita untuk memelihara lingkungan dan tidak boleh merusaknya. Sabdanya, “Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu.” (HR Muslim). 

Dan tentunya penanganan sampah sesungguhnya tidak akan selesai jika hanya fokus pada individu saja. Butuh peran negara dalam membangun paradigma keimanan untuk menangani masalah sampah. Peran negara dalam hal regulasi serta sanksi. Di samping melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Mulai dari hulu sampai hilir, kuncinya ada pada keseriusan negara. Dari sisi regulasi, negara berwenang untuk menerapkan aturan tegas kepada pabrik-pabrik terkait limbah yang dihasilkan. Juga kepada masyarakat secara umum, melalui mekanisme tersistematis. Semisal pengadaan bak sampah di setiap sudut rumah, baik bak sampah organik maupun anorganik. Bukan hanya menghimbau, tapi mewajibkan warga untuk disiplin dan tertib melakukan pemilihan terhadap sampah. Negara pun akan membiayai riset seputar teknologi pengolahan sampah. Semua beban biaya akan diambil dari kas negara, dikenal dengan istilah Baitul Mal. Sehingga tidak ada pemungutan iuran untuk pengangkutan sampah. Di sisi lain akan muncul beragam inovasi mutakhir untuk menjinakkan sampah. Bila ada yang lalai, maka akan ada sanksi yang diberikan untuk memberikan efek jera dan menghapus dosa di akhirat bagi muslim yang meyakini adanya hari penghisaban.

Jika baik hulu dan hilir dibenahi secara sungguh-sungguh, masalah sampah tidak akan berlarut-larut. Baik level individu, masyarakat, dan negara sama-sama memiliki perhatian terhadap sampah, dan tidak menyepelekannya. Tentu ini semua lahir dari kesalehan. Kesadaran bahwa Allah, sebagai Al-Khaliq Al-Mudabbir, menghendaki setiap manusia menjadi penjaga bagi bumi. Iman hasil pencarian akal, akan kokoh menghujam. Pengendali bagi kedua tangan untuk memberikan hak bagi sampah, yakni dibuang di tempatnya dan dipilih sesuai jenisnya. Landasan iman pun akan membuat setiap penguasa yang yakin kepada Allah dan akhirat, untuk serius menangani hulu dan hilir dari siklus sampah agar lingkungan tidak rusak dan ekosistem pun terjaga. Allah berfirman: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (TQS. Al-A‘raf: 56).

Dan hal ini hanya dapat dilakukan apabila Islam diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar