Oleh: Poppy Agita
Ramadan adalah bulan kemuliaan yang membawa angin segar bagi perubahan dan harapan untuk kaum muslimin. Bagi warga Gaza Ramadan datang dengan harapan dan ketenangan. Pada 19 januari lalu Hamas dan Israel menandatangi perjanjian gencatan senjata dalam tiga tahap. Warga Gaza mulai kembali ke rumah masing-masing setelah 15 bulan tinggal di pengungsian.
Selama bulan Ramadan Hamas mengajak warga Palestina untuk ibadah di Masjidil Aqsa sebagai bentuk perlawanan atas kependudukan Israel.
Dilansir Antara, sabtu (1/32025), sebuah pernyataan disampaikan oleh Hamas, “jadikan hari-hari dan malam-malam Ramadan yang penuh berkah didedikasikan untuk ibadah, keteguhan hati, dan perlawanan terhadap musuh dan pemukim (illegal), serta untuk mempertahankan Al Aqsa sampai terbebas dari pendudukan”.
Sementara itu akses ke Masjid al Aqso dibatasi oleh otoritas Israel melalui karantina wilayah dengan alasan keamaan. Pembatasan akses warga Palestina ke Masjid Al Aqso dilakuakn oleh otoritas Israel hampir setiap Ramadan.
Kondisi gaza tak beranjak dari keterpurukan dan kesedihan, penghiantan zionis atas perjanjian gencatan senjata pun terus terjadi. “Netahanyu berusaha membatalkan perjanjian gencatan senjata yang telah ditandatangani, untuk memenuhi perhitungan politiknya yang sempit dengan mengorbankan tawanan Israel di Gaza” kata Hamas dalam sebuah peryataan.
Berkat dukungan penuh AS entitas zionis semakin membabi buta. Setelah Presiden AS, Trump mengungkapkan bahwa AS akan mengambil alih Gaza dan mengusir penduduknya. Pada 5 maret 2025 Trump menolak usulan Mesir dan Negara-negara Arab sekitar untuk membangun kembali Gaza setelah luluh lantak. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan bahwa Trump masih sangat berambisi , dia ingin membangun Gaza dan mengubahnya menjadi “Riviera of The Middle East” atau kawasan pesisir yang indah di Timur Tengah.
Trump telah berulang kali menyatakan rencananya untuk merelokasi warga Gaza. Trump bahkan mengancam akan menghentikan bantuan ke Mesir dan Yordania jika mereka tidak menerima warga Gaza. rencana Trump merelokasi warga Gaza adalah untuk menekan Negara-negara Arab dan agar menyingkirkan Hamas dari kekuasaan. Hal ini ditujukan untuk menghentikan dukungan financial bagi Hamas dari Negara-negara Arab khuusnya Qatar.
Semua ini terjadi karena umat Islam tidak memiliki pelindung dan junnah. Umat seharusnya menyadari pentingnya kepemimpinan Islam untuk melawan dan mengusir orang-orang kafir dari tanah Palestina. Dan menyadari ketiadaan junnah kaum Muslimin bearti membiarkan umat muslim di Gaza hidup sengsara, padahal mereka adalah saudara seimanan kita.
Masalah Palestina adalah masalah kaum muslimin. Tidak ada seorang pun yg berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain. Apalagi kepada perampok dan penjajah seperti zionis. Oleh karena itu, sikap seharusnya terhadap mereka yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan yakni perangi dan usir!
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka,serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum mukmin.” (TQS At Taubah [9]: 14).
Ketiadaan Khilafah membuat negri-negri muslim terjajah dan terisolasi. Oleh karenanya penegakan Khilafah sebagai solusi atas Palestina dan negri muslim lainnya adalah perkara mendesak dan penting. Tegaknya Khilafah sebagai junnah membutuhkan dakwah dari kelompok dakwah Islam idiologis yang menyeru umat untuk memehami Islam secara kaffah dan berjuang dengan menenempuh jalan sebagaimana kelompok dakwah Rasulullah. Umat harus memeliki kesadaran politik bahwa nasib Islam dan kaum muslimin tidak akan mulia dengan ikatan kebangsaan. Kemuliaan dan kehormatan Islam dan kaum muslim hanya akan terwujud dalam ikatan akidah Islam serta penyatuan negri-negri muslim dalam naungan Khilafah.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.
0 Komentar