Ramadan Berakhir: Mari Wujudkan Taqwa dengan Menerapkan Islam Kafah


Oleh : Intan A.L (Ibu Rumah Tangga)

Ramadan telah berakhir. Mari kita mengingat kembali akan tujuan utama ibadah puasa, yaitu mencapai derajat taqwa. Kenapa? Karena realitas menunjukkan bahwa meskipun Ramadan datang setiap tahun, kondisi masyarakat kita masih diwarnai berbagai permasalahan moral dan sosial. Hal ini menandakan adanya kesenjangan antara nilai-nilai Islam yang diajarkan selama Ramadan dengan praktik kehidupan sehari-hari.


Realitas Kehidupan Sekuler Kapitalistik

Saat ini, masyarakat hidup dalam sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan menempatkan materi sebagai tujuan utama. Akibatnya, nilai-nilai spiritual dan moral sering terpinggirkan. Dampak dari sistem ini terlihat jelas dalam berbagai aspek kehidupan sosial.


Maraknya Kemaksiatan dan Krisis Moral

Salah satu indikator jauhnya umat dari nilai-nilai Islam adalah meningkatnya kasus kehamilan di luar nikah di kalangan remaja. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan bahwa setiap tahunnya terdapat puluhan ribu remaja yang hamil di luar nikah.

Sebagai contoh, di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada tahun 2024 tercatat 98 permohonan dispensasi nikah, dengan 74 di antaranya disebabkan oleh kehamilan di luar nikah. (regional.kompas.com)

Selain itu, aksi kekerasan seperti begal juga semakin meresahkan masyarakat. Polda Metro Jaya, dalam Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Jaya 2025 yang berlangsung pada 7-21 Maret 2025, berhasil mengungkap 382 kasus kriminal, termasuk 32 kasus pencurian dengan kekerasan atau begal (news.detik.com).

Kasus-kasus ini mencerminkan krisis moral yang semakin parah di tengah masyarakat.

Fenomena ini tidak terlepas dari tidak diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh dalam sistem hukum dan kehidupan bermasyarakat. Sistem sekuler kapitalistik yang dianut saat ini gagal memberikan solusi efektif terhadap permasalahan sosial dan moral. Tanpa panduan nilai-nilai Islam, masyarakat cenderung kehilangan arah dan mudah terjerumus dalam perilaku menyimpang.


Kembali kepada Syariat Kafah

Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk meng-upgrade diri menuju pribadi yang bertaqwa. Taqwa tidak hanya berarti menjalankan ibadah ritual, tetapi juga ketaatan penuh terhadap seluruh hukum Allah Swt. dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini mencakup penerapan nilai-nilai Islam dalam sistem hukum, ekonomi, pendidikan, sosial termasuk pemerintahan.

Sebagai bukti keimanan, umat Islam dituntut untuk menyuarakan kebenaran dan mengoreksi kezaliman yang terjadi di masyarakat. Hal ini sejalan dengan perintah Allah Swt. dalam Al-Qur'an untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Dengan demikian, penerapan syariat Islam secara kafah diharapkan dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi umat saat ini.

Maka dari itu, saat Ramadan berlalu, marilah kita jadikan momentum untuk merefleksikan diri dan berkomitmen kembali kepada syariat Islam secara kafah. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam, menjunjung tinggi moralitas, dan mencapai derajat taqwa yang sesungguhnya dengan bersama kembali pada perjuangan penerapan syariat Islam kafah.

Wallahu a'lam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar